Tulisan yang Enak dibaca itu Kayak Gimana?

tulisan yang enak dibaca

Tulisan yang Enak dibaca itu Kayak Gimana? – Saya adalah pembaca. Saya suka baca apa saja, di blog juga demikian. Mau tulisan keseharian, kegalauan, puisi, cerpen, esai, pokoknya dari yang jelas sampai nggak jelas. Tapi, ada kalanya saya sebagai pembaca merasa tersiksa membaca sebuah blog post.

Kenapa saya bisa tersiksa?

Sebelum masuk ke ranah tulisan. Saya mau ngomongin tampilan blog dulu. Dari sisi tampilan, saya biasanya tersiksa karena ukuran huruf yang dipakai itu kecil banget. Padahal mata saya ini bagus super normal lho, tapi itu cukup mengganggu. Nah, ada lagi yang menggunakan warna huruf yang mencolok. Jadi belum apa-apa saya udah males duluan bacanya.

Udah deh, saya tinggal. Nggak jadi baca.

Tapi, beruntungnya ada wordpress gitu. Jadi bisa membaca dengan tampilan yang aman dan nyaman. Huruf hitam, latar putih dan sedikit sentuhan biru. Errr… Blog saya nggak gitu sih, kan self hosted. Tampilannya mengikuti theme yang dipakai penggunanya. Agak ribet ya baca blog saya? Mana ada iklannya lagi? Hahaha…

Kalau masalah tampilan sudah enak. Gimana sih tulisan yang enak dibaca itu?

  1. Panjang kalimat yang tidak seperti kereta api

Struktur kalimatnya pendek. Pas dibaca itu nggak bikin megap-megap kayak ikan di darat. Enak aja dibacanya. Mengalir.  Jangan sampai lebih dar 10 kata kalau bisa.

Duh, jadi inget zaman SMP. Guru Bahasa Indonesia saya selalu nyuruh untuk buat satu kalimat lebih dari 10 kata. Satu paragraf harus satu full satu halaman. Sempet protes sih, karena menurut saya itu nggak asyik, nyusahin yang nulis, nyusahin yang baca.

Tapi apa daya, murid biasa kayak saya dulu bisa apa? Pernah kepikiran untuk nulis di buku pramuka aja, biar cepet bikin satu paragraf. Tahu buku pramuka nggak? Itu lho yang kecil banget. Biasaanya dipakai buibu nulis arisan.

*curhat banget yak?

  1. Saltik hingga mengubah arti kata

Saltik alias typo. Dikit-dikit nggak apa-apa sih. Kalau kebanyakan ya jangan. Kurang enak, kurang sedap gitu. Parahnya kalau sampai mengubah arti kata itu sendiri.

Jangan pernah meremehkan saltik. Karena tulisan kamu bisa kacau. Mau nulis Tuhan, eh huruf “h” ketinggalan, jadi Tuan. Itu kan sudah beda banget ya?

Pernah nih saya baca salah satu tulisan yang ngomongin makeup. Penulisnya mau menulis “mengontrol minyak berlebih”. Karena saltik jadi “menganu minyak berlebih.”

Ngerti kan maksud saya?

Cek ulang deh sebelum menekan tombol publish.

  1. Fokus, jangan melebar

Menjaga fokus dalam menulis itu emang gampang-gampang susah. Saya sering melebar. Pengennya apa aja dibahas dalam satu post blog. Akhirnya yang baca bingung, tulisannya mau dibawa ke mana? Inti dalam tulisan nggak bisa ditangkep.

Udah kayak usaha yang gagal yha?

Tenang, bisa diakali dengan dibuatnya outline. Bisa dibaca di sini nih.

Males buat outlinenya? Bisa kayak gini nih caranya ; klik di sini.

  1. Kayak ngomong ke temen

Saya suka tulisan yang kayak ngomong. Soalnya berasa diajak ngomong, ya iyalah masa kayak diajak mancing. Jadi, saya merasa terlibat dan ada dalam topik yang disajikan penulis.

Siapa juga kan yang suka dicuekin?

Saya sih nggak.

Rasanya sakit.

Sekali-kali, coba bayangkan saat kamu nulis. Ada seseorang yang hadir di hadapan kamu. Begitu setia mendengar kamu sedang ngebacot. Coba bikin dia nyaman dengan bacotanmu.

*uhuk.

  1. Gaya bahasa yang ringan dan santai

Intinya sih luwes. Kan ceritanya ngomong sama temen.

Bukan berarti nggak tahu yang baku itu seperti apa. Bukan berarti nggak tahu struktur kalimat yang benar itu seperti apa.

Menulislah seperti seniman. Tahu teori tapi bisa memecahkan aturan-aturan yang ada.

Ingat, ini blog lho. Kamu lagi nggak lagi buat jurnal ilmiah.

Gaya bahasa yang ringan dan santai juga bisa lebih dipahami oleh pembaca. Sebagai orang yang ngerasa daya serapnya segini-gini aja. Saya suka sama tulisan yang ringan tapi pesannya bisa sampai.

Sampai ke hatimu.

  1. Tulisan yang ekspresif

Kita nggak punya wajah yang bisa ditunjukkan secara indrawi. Kita tidak bisa menunjukkan wajah dengan ekspresinya. Kita hanya punya tulisan. Lewat tulisan yang ditulis, kita bisa menitipkan ekspresi kita. Entah itu sedang bahagia atau sedih.

Jangan sungkan untuk menuliskan haha, kkkk, wkwk, atau apapun. Itu level paling gampang. Sedang marah? Mau bilang bangke? Boleh. Tenang aja, itu blog kamu kok. Tapi yha nggak sampai kayak Reza Arap juga sih.

Segan bilang langsung? Coba gambarkan, jangan katakan.

Nah, kalau ini kamu harus banyak latihan. Bisa deh dikit-dikit buat puisi atau fiksi mini. Harus banyak baca juga.

Poin ke 6 ini sangat bergantung pada pribadi masing-masing. Tiap orang selalu berbeda dalam berekpresi.

  1. Tulisan yang bikin nagih

Sebagai pembaca, sesekali saya menemukan tulisan yang bikin saya mau lagi dan lagi. Udah selesai baca, lha kok cuma segini? Akhinya saya kepoin tulisan sebelumnya. Ternyata saru, eh seru maksudnya.

Pokoknya saya betah berlama-lama di blog yang bersangkutan.

Kenapa saya betah? Biasanya ada aja poin tertentu yang bikin saya takjub. Nggak mesti pakai diksi yang cetar membahana badai, bukan juga tulisan tanpa cela. Tapi, ada keunikan di dalam tulisannya. Bukan yang terbaik, tapi bloger yang menulis itu “beda” aja.

Haduh, gimana yha jelasinnya? Pokoknya begitu deh.

Poin ketujuh ini jarang-jarang saya temuin. Makanya sekali nemu biasanya susah lupa. *pret

tulisan yang enak dibac

Kesimpulannya apa dong?

Kesimpulannya tulisan yang enak dibaca adalah tulisan yang bisa membuat pembacanya benar-benar selesai membaca.

Tidak berhenti di situ. Pesan juga harus sampai. Mau ngomong soal naga? Jelas harus naga yang sampai, bukan kadal bunting.

Tapi, seperti biasanya bahwa poin yang saya buat adalah pendapat pribadi. Mungkin tulisan yang enak dibaca menurut kamu bisa berbeda dengan saya. Jadi, jangan sungkan untuk nambahin di kolom komentar.

Terima kasih sudah membaca.

Selamat kamis.

Dadahhhhh…..

9 thoughts on “Tulisan yang Enak dibaca itu Kayak Gimana?

  1. Yeay… yg nomer 5 itu menarik. Dan itu yg sy rasakan saat bca tulisan Mbak Taro. Nulis dg gaya bhasa yg santai bkn berarti gak ngrti kaidah2, itu yg rasakan saat bca tulisan Anda.

    Sy gak ad tmbhan Mbak Momo. Kesimpulan yg Anda buat sy pikir itulah jawaban yg pas.

  2. Aduh, kadal bunting keluar di sini.. 😀

    Setuju sama poin-poin itu mbak, poin ketujuh nih terutama. kadang nemu blog yang bikin nagih, sampe aku kepoin tulisan ke sekian. 😀
    Tidak berlebihan, kalau aku pribadi Mbak. Ini misalnya tidak berlebihan dalam tanda baca, entah itu tanda titik, koma, seru, emot yang tidak pada tempatnya, dan banyak sekali, kadang juga bikin ga nyaman bacanya.

    1. mungkin biasanya nulis pakai hape. jadi bertebaran emot-emot.
      agak sulit kan nulis di PC tapi dibumbui emot.

      terima kasih tambahannya. setuju jugakkk.

      harusnya yang dilebihkan itu yang bikin nagihnya ya? heheu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *