Urrie Dongsaeng

Kalian tahu drama korea It’s Okay to Not Be Okay?

Moon Gang Tae kecil pernah marah kepada Sang Omma dan Hyungnya, Gang Tae kecil pernah berteriak lebih baik Hyung-nya mati saya. Gang Tae sangat sedih sebab Omma-nya bilang melahirkannya untuk menjaga Hyungnya yang menderita autis. Luka itu lama sekali ada di diri Gang Tae.

Saya tahu banget apa yang dirasakan Moon Gang Tae.

Saya pernah ada kurang lebih ada di posisi Gang Tae. Bahkan lebih-lebih. Karena saya ingin adik dan kakak saya mati saja.

Jadi, jangan pikir Momo itu baik, dia jahat sekali.

4 juli 2017, saya pernah menulis tentang adik saya satu-satunya. Tulisannya sudah tidak ada. Menghilang bersama blognya. Berkas lamanya rusak bersama dengan laptopnya.

Usianya kini 23 tahun. Orang-orang seusianya sudah ada yang menikah, punya anak, atau baru lulus kuliah. Ada juga yang sedang S2, menjalani semester pertama mereka. Tetapi, adik saya lain. Keadaanya jauh lebih buruk dari yang pernah saya ceritakan di tahun 2017.

Kini, ia bahkan tidak bisa duduk dengan benar. Kursi rodanya kini sudah penuh dengan karat dan debu karena sudah lama tidak digunakan. Sepanjang harinya, ia hanya berbaring, tertidur, atau diam saja memandang langit-langit. Entah apa yang ia pikirkan.

Ketika melihat kulit di punggung tangannya, banyak bintik-bintik coklat seperti tanda penuan, rambutnya mulai ditumbuhi uban yang banyak, tiap harinya masih kejang-kejang dan pernah jatuh dari kasur. Giginya menghantam lantai.

Dengan tisu saya menyeka darah yang keluar dari mulutnya, membersihkan lantai. Tapi, kemudian dia tertawa.  Saya pun menangis. Anggap saja saya menangis mewakilinya karena begitu bodoh, sewajarnya ia menangis saat terluka, bukannya tertawa.

Saat itu darahnya banyak sekali dan gigi depannya hampir lepas.

Buat yang belum tahu, saya ceritakan kembali. Saat bayi usia 5 bulan, ia bayi yang normal. Hingga panas tinggi, kejang, koma, lama di rumah sakit, sempat kehilangan penglihatannya, lemes lagi seperti bayi, divonis bakalan cacat oleh dokter. Kesana kemari mencoba berobat dan terapi. Tapi tidak ada tanda-tanda perkembangan yang lebih baik. Akhirnya, keluarga memasrahkan semuanya.

Dulu, jam main saya berkurang saat SD karena harus menjaganya. Anak kecil memang harus dalam pengawasan. Apalagi anak yang cacat. Salah sedikit bisa kacau.

Waktu SD kelas 6 pernah saya bawa ke rumah teman, karena di rumah Ibu saya pergi ke kota beli kain. Mungkin usianya sekitar 4 tahun. Saat di rumah teman, adik saya terus menangis. Akhirnya saya bawa pulang. Di perjalanan tiba-tiba hujan, sedangkan teman rumah saya cukup jauh. Saya yang kecil menggendongnya. Berharap cepat sampai. Hingga ada mendiang sepupu saya yang berbaik hati memanggil abang becak untuk mengantar kami pulang.

Kebaikan mendiang sepupu saya itu tidak terlupakan. Berat sekali membawanya pulang dengan kondisi menangis tanpa henti. Makanya, waktu nonton drama korea My Mister (2018), saat Lee Ji An membawa neneknya dalam troli, saya menangis sejadi-jadinya.

Malamnya, adik saya menangis terus tanpa henti dan Bapak menyalahkan saya sepanjang malam.

Pernah juga, saat menggendongnya, kaki saya kesleo, jatuh berdua. Sama-sama terluka, dan lagi-lagi saya yang disalahkan.

Saat lain kesempatan saat sedang membuat tugas kerajinan dan ada silet, adik saya yang tidak pernah paham apa itu silet langsung memegangnya kencang-kencang, tentu langsung terluka dan berdarah. Saya tentu disalahkan.

Bagaimana cara mendiamkan anak yang bahkan tidak punya kemampuan bicara? Saya yang masih kecil menaikkannya ke sepeda. Ditaruh di bagian depan. Saya di belakang memegang tubuhnya dengan tangan kiri, tangan kanan di setir dan kaki mengayuh sambil menyeimbangkan sepeda.

Karena kaki adik saya kaku, tidak seperti kaki normal. Kakinya masuk jeruji sepeda. Saat itu jalan menurun, sepeda otomatis ngebut sendiri. Sekuat tenaga saya hentikan, jempolnya terluka. Seperti terkelupas kulitnya. Saat ini bekasnya masih ada. Tentu, saya diomeli habis-habisan.

Apa yang ada dipikiran saya kecil saat itu? Saya ingin sekali adik saya mati. Ketika ia dalam kondisi yang buruk. Saya berdoa agar ia mati saja. Tapi adik saya kuat sekali.

Seiring berjalannya waktu, adik saya tambah berat. Saya udah nggak kuat. Dulu, suka ngamuk, nangis, dan guling-guling ke lantai.

Adik saya galaknya bukan main, saya sering kena tampar, jambak, cakar, gigit. Luar biasa sekali.

Apa yang diinginkannya?

Tidak tahu. Tidak jelas.

Saya Tidak Suka

Saya tidak pernah suka pula bagaimana respon anggota keluarga lain saat adik saya ngamuk sambil menangis. Saya merasa hampir-hampir menjadi gila. Saya ingin ada pintu kemana saja kemudian saya kabur.

Kalau kata orang, rumahku adalah surgaku, saya akan bertanya, dimana letak surganya? Kenapa menyesakkan sekali seperti tidak ada udara.

Ada kalanya yang dirindukan adalah ketenangan.

Tidur

Tiga atau dua tahun belakangan, adik saya lebih banyak tidur. Ia jarang menangis. Tubuhnya melemah luar biasa. Jarang keluar rumah sampai kulitnya pucat. Mentok minta makan sama mandi.

Kalau saya kasih ciki di tangannya, ia akan membuangnya. Adik saya tidak terlalu paham mengantarkan makanan ke dalam mulutnya.

3 meter

Jarak antara tempat saya ngetik dan adik saya yang berbaring hanya 3 meter saja.

Seringkali ia tidur miring. Saya hanya bisa melihat punggungnya.

Kadang juga ia menatap saya, kata orang jawa ketap ketip matae.

Kalau saya menatap balik dan bertanya, “APA?”

Dia malah tertawa.

Tawa dan tangisnya tidak pernah saya pahami sampai sekarang.

Membayangkan…

Moon Gang Tae pernah membayangkan dalam salah satu adegan bahwa dia kembali menjadi anak SMA lagi. Kemudian Hyung-nya, Moon Sang Tae nampak normal-normal saja seperti ahjussi pada umumnya yang mencie-cie Moon Gang Tae yang naksir Ko Mun Yeong.

Ada kalanya, saya membayangkan bagaimana rasanya punya adik normal seperti yang lain. Mungkin bisa saya suruh macam-macam. Nanti saya minta boncengin ke mana-mana sebab nyetir adalah hal paling malesin dalam hidup saya.

Atau saya bisa peras tenaganya dan palakin buat bayar listrik dan tagihan bulanan lainnya. Hahah.

Tapi saya kembali dalam keheningan lagi. Keheningan yang nggak hening-hening banget sebab adik saya ngorok.

Dalam Pelukan-Nya

Dulu sekali, saat kedua orangtua ada di rumah sakit karena opname. Saya di rumah bersama adik saya. Hanya ada kami bertiga di rumah dengan kakak lelaki.

Jam empat pagi. Di samping adik saya sudah ada mangkok plastik kosong dan sendok. Di meja sudah ada minuman teh manis yang tinggal sedikit.

Saya terdiam tanpa paham siapa yang telah memberi makan adik saya. Saat itu adik saya terjaga dalam keadaan diam. Saya periksa tempat makan, ada nasi dan sayur. Secara logika, tidak mungkin bisa mengambil makanan sendiri. Bahkan makan sendiri pun tidak mampu.

Kakak saya pun hanya tidur seperti biasanya. Saat pagi ditanya dan mengaku tidak pernah menyuapi makan.

Siapa? Siapa yang menyuapi adik saya makan?

Malaikat secara langsung barangkali. Itu kesimpulan saya.

Hidup adik saya itu seperti lockdown seumur hidupnya. Tuhan tidak mengizinkannya memahami apa-apa yang biasanya dipahami sebagai pengetahuan dasar manusia. Secara kecerdasan, adik saya masih tertawa saat saya menyanyi lagu pok ame-ame. Ketika diberikan apapun ke tangannya, maka akan segera dilempar. Secara fisik, keterbatasannya luar biasa. Tidak main-main. Keseimbangannya kacau. Duduk saya tidak bisa.

Maka saya sebut ia anak yang masih dipeluk Tuhan-Nya.

Dan saya manusia yang masih sering menggerutu ini dan itu. Jahat sekali pernah mendoakannya cepat mati saja.

Kalau Sang Tae bisa menyadari Gang Tae pernah tidak menginginkannya saat di danau es. Sang Tae memahami adiknya pernah menginginkannya mati dan ia bersedih akan itu.

Adik saya pemahamannya tidak sampai ke sana. Ia bahkan mungkin tidak tahu bahwa ia ada. Segala tentangnya sulit dipahami.

Mianhae. Urrie dongsaeng. Saya sering jahat. Sering.

You May Also Like

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *